Pesan Untuk Kita :

Kamis, 30 April 2009

Agenda Setting, Republika dan Suara Pembaruan

Teori Agenda Setting. Teori Agenda Setting dapat dianggap kemampuan media massa untuk menyampaikan kepentingan dari berita-berita yang ada didalam agenda mereka terhadap agenda yang ada didalam masyarakat. Berbagai level dari Agenda Setting adalah :

1) Agenda setting tingkat pertama. Pada level ini media menggunakan obyek atau permasalahan untuk mempengaruhi masyarakat. Pada level ini media menyarankan kepada masyarakat apa yang mereka harus pikirkan.

2) Agenda setting tingkat kedua. Pada level ini media memfokuskan diri terhadap karakteristik dari suatu obyek atau masalah tertentu dan media juga menyarankan kepada masyarakat bagaimana mereka harus berpikir terhadap masalah tersebut. Ada dua tipe atribute yang digunakan, kognitif (substansi atau topik) dan afektif (evaluatif atau positif, negatif, netral).

Fungsi agenda setting memilliki beberapa komponen yang saling berhubungan yaitu :

(a) Agenda Media : isu-isu didiskusikan di dalam media.

(b) Agenda Publik : isu-isu didiskusikan dan secara personal berhubungan dengan anggota-anggota dari suatu komunitas atau masyarakat.

(c) Agenda Kebijakan : isu-isu yang dianggap penting oleh para pembuat kebijakan atau pemerintah.

(d) Agenda Perusahaan : isu-isu yang dianggap penting bagi perusahaan dan pelaku bisnis.

Berdasarkan uraian di atas, baik Suara Pembaruan dan Republika menggunakan agenda setting tingkat kedua dan berusaha mempengaruhi pembaca dengan gaya dan isi berita mereka masing-masing. Pada kasus Tifanul Sembiring, Republika berusaha meyakinkan para pembacanya bahwa, Tifanul Sembiring tidak bersalah dengan menyajikan komentar-komentar yang bernada membela yang disampaikan oleh pihak-pihak tertentu didalam pemberitaan. Republika juga tidak menjelaskan statement negatif dari pihak lain yang berlawanan dengan harapan masyarakat tidak akan mengubah mind setting yang telah dibuat. Masyarakat akan dibuat tetap membela PKS dan Tifanul Sembiring dan tidak pernah berpikir sebaliknya.

Demikian pula dengan Suara Pembaruan yang memang beraliran Batak - Kristen. Koran tersebut berusaha meyakinkan pembaca dengan gaya bahasanya agar sesuai dengan harapan mereka. Berita yang disajikan merupakan ungkapan perasaan tidak puas terhadap perlakuan pemerintah RI terhadap Tapanuli karena dengan sengaja membiarkan tanpa dimekarkan menjadi suatu provinsi. Dengan bahasanya, editor berusaha membandingkan dengan keluarnya Timor Timur dari Indonesia dan betapa berjasanya Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, sehingga tidak ada alasan bagi pemerintah dan pembaca untuk menolak berdirinya Provinsi Tapanuli. Dengan agenda setting tersebut, mereka berusaha menanamkan pikiran mereka ke dalam pikiran para pembaca.

Tidak ada komentar: